Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Ini adalah blog komunitas pendidikan di Banda Naira, bergabunglah bersama kami, untuk kemajuan bersama--bandaeducation--bandaeducation--bandaeducation--Thank's for visit our blog. This is the community blog for education in Banda Naira....come n enjoy with us...for our bright future...

Senin, 23 Januari 2012

SELAMAT TAHUN BARU CINA

Dua hari belakangan ini kota-kota dimeriahkan oleh nuansa merah meriah, lampion-lampion yang bergantungan, kembang api di malam hari, dan atraksi yang mengagumkan dari sahabat-sahabat Tionghoa kita di jalan-jalan. Inilah tahun baru Cina! Orang biasa menyebutnya "imlek".

Menurut Marco Kusumawijaya, Imlek pada dasarnya adalah perayaan awal musim semi. Ia terkait erat dengan siklus pertanian. Tetapi pertanian tentu tidak terlepas dari kehidupan perkotaan, tempat banyak orang hidup bersama dalam jarak dekat, sehingga banyak produk pertanian dikonsumsi dan dirayakan! Maka sebenarnya perayaan Imlek bukan hanya terdiri dari kembang api dan angpau saja. Ia boleh dikatakan merayakan apa yang sekarang disebut metabolisme sirkuler. Desa mengirim makanan ke kota, sebaliknya kota mengirimkan pupuk, bibit hasil silang, kebutuhan pertanian lainnya, serta pembaharuan-pembaharuan.

Oleh karena itulah unsur makanan menjadi salah satu hal terpenting pada perayaan Imlek. Salah satu agenda pokok keluarga-keluarga yang merayakan Imlek di Indonesia adalah makan bersama keluarga dengan menu tertentu, misalnya hidangan tanpa daging. Di keluarga lain bisa berlaku menu lain, misalnya daging tertentu atau ikan.

Disorientasi perayaan Imlek
Namun, menurut beberapa pakar mengatakan secara historis makna Imlek saat ini telah mengalami perubahan. Jika masa lalu warga Tionghoa menyebut "selamat pergantian musim baru", saat ini disebut "selamat menjadi kaya raya." Perayaan Imlek tampaknya telah mengalami disorientasi.

Menurut J.J. Rizal (sejarawan muda dari Universitas Indonesia), disorientasi ini disebabkan adanya gejala asimilasi Cina Daratan yang lebih berorientasi kepada Mandarin, sehingga membuat pemahaman dan pemaknaan tentang Imlek sekarang sangat berbeda dengan masa lalu. Rizal mencontohkan, jika sekarang ini lebih dikenal ucapan "Gong Xi Fat Chai" sebagai ucapan salam untuk perayaan hari imlek, namun dahulu keturunan Tionghoa akan mengatakan "Sin Cun Siomi" saat perayaan Imlek, yang artinya lebih sesuai dengan makna asal nya, yaitu "selamat merayakan musim yang baru." Sayangnya ucapan itu hampir tak dikenal orang Tionghoa di Indonesia saat ini.

Apa kabar Imlek di Banda Naira?
Meski memiliki komunitas yang relatif sedikit, namun warga Tionghoa di Banda sebenarnya cukup beralasan untuk (kembali?) merayakan imlek di "tanah kelahirannya" itu. Sebab, orang Cina Banda hampir mustahil dibedakan dengan warga lokal, karena sudah cukup lama mereka berasimilasi dengan penduduk setempat. Dalam sejarah, keberadaan orang Tionghoa bahkan 700 tahun lebih awal dari kedatangan orang Arab (abad ke-14) dan Portugis (abad ke-16) di Banda! Bukti historis itu didukung oleh begitu banyaknya simbol-simbol Cina yang melekat pada "benda-benda keramat" dalam ritual adat Banda. Ini salah satu bukti betapa kuat pengaruh budaya Cina terhadap Banda di masa lalu.

Singkat kata, jika dilakukan menurut pemaknaan Imlek yang benar, maka perayaan imlek di Banda setidaknya akan memberikan dua manfaat positif bagi masyarakatnya; (1) Akan semakin mempererat ikatan persaudaraan masyarakat Banda yang membangun relasi etnik nya dalam bingkai saling membantu, menolong, dan berbagi kebahagiaan. (2) Perayaan Imlek juga akan ikut memperkaya khazanah budaya masyarakat Banda yang beranekaragam, yang tentunya akan menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun asing.

Sin Cun Siomi, basudara Banda. Semoga kita semua dapat menikmati manfaat dan kebahagiaan yang Tuhan berikan di tahun baru ini. Amin!


Muhammad Farid
Dosen Sejarah STKIP Hatta-Sjahrir, Banda Naira

0 komentar: