Kamis, 19 Januari 2012
SEJARAH REMPAH DARI MASA KE MASA
SEMERBAK REMPAH DUNIA
Rempah-rempah punya sejarah yang fantastis. Ia memberi pengaruh terhadap tokoh-tokoh penting yang membuat mereka akhirnya dikenal sebagai pengubah sejarah dunia, mulai Yesus Kristus, Ibnu Sina sampai gadis-gadis Spice Girls. Dari Firaun Ramses hingga Marco Polo, Christopher Columbus, dan Vasco da Gama.
Percaya atau tidak, rempah-rempah (khususnya pala dan cengkeh), adalah tanaman purbakala yang terkenal sejak ribuan tahun sebelum masehi! Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate, Tidore, dan Banda Naira), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands. Menanam pohon cengkeh saat seorang anak dilahirkan adalah tradisi penduduk asli Maluku. Secara psikologis ada pertalian antara pertumbuhan pohon cengkeh dan anak tersebut sehingga pohon cengkeh benar-benar dijaga dan dirawat oleh orang Maluku. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.
Perjalanan cengkeh dari daerah asalnya di Maluku sampai menjadi rempah yang dikenal dan digunakan di seluruh dunia bergulir seiring dengan garis sejarah perdagangan rempah-rempah (spice trade). Berikut ini adalah bukti sejarah cengkeh dan spice trade, mencakup pemakaian dan perdagangan cengkeh dari 5000 tahun yang lalu hingga 500 SM.
REMPAH DARI MASA KE MASA
Abad 3000 SM
Rempah-rempah mungkin telah digunakan oleh manusia sejak manusia mulai menggunakan api untuk memasak. Catatan pertama tentang penggunaan rempah-rempah adalah dari bangsa Assyria (bangsa yang tinggal di kawasan Iran, Irak, Turki, dan Suriah) sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Catatan tersebut menyebutkan mitos bahwa dewa-dewa bangsa ini meminum anggur wijen (sesame) pada malam sebelum dunia diciptakan, sementara diketahui bahwa asal wijen adalah dari India Selatan. Dari sini kita mendapatkan dua bukti sejarah yaitu pemakaian dan perdagangan rempah-rempah di jaman purbakala, sekitar 5000 tahun yang lalu!
Abad 2400 SM
Bukti selanjutnya berkaitan langsung dengan cengkeh. Dari penemuan arkeologi peradaban Sumeria (peradaban purba di selatan Mesopotamia, tenggara Irak) diketahui cengkeh sangat popular di Syria pada 2400 SM. Ini bukti yang sangat kuat bahwa perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku adalah benar-benar purba.
Abad 1500 SM
Bangsa Mesir dan Somalia juga tercatat telah memanfaatkan rempah-rempah, baik untuk kuliner maupun pengobatan, sekitar 1500 SM. Jack Turner, penulis buku Sejarah Rempah-Rempah (2011) memberikan informasi penggunaan rempah-rempah, khususnya lada, pada awalnya bukan sebagai bumbu masakan, melainkan untuk kepentingan terkait kematian raja Mesir Ramses II, ketika ia meninggal pada 12 Juli 1224 SM, para abdinya menjejali lubang hidungnya dengan biji lada. Semua bukti-bukti ini menunjukkan bahwa hubungan antara Timur Tengah dan Cina, Asia Tenggara, India, serta Spice Islands telah berabad lamanya. Ini juga merupakan indikasi betapa berharganya rempah-rempah, termasuk cengkeh, hingga dicari bangsa lain dengan peluncuran ekspedisi besar-besaran.
Abad 950 SM
Pada 950 SM bangsa Nabatean dari utara Arab mulai berekplorasi ke Cina dan India menempuh jalur daratan mengendarai karavan yang ditarik unta dan keledai. Jalur ini disebut Incense Route karena tujuan utamanya adalah mencari incense and rempah-rempah untuk bangsa Yunani. Jalur ini kemudian menjadi sepi setelah bangsa ini beralih ke jalur maritim serta mulai melibatkan bangsa dari selatan Arab. Letak semenanjung Arab yang strategis, di persimpangan antara Eropa, Afrika, dan Asia, ditambah jalur perdagangan melalui darat yang dirintis oleh Arab sebelumnya menjadikan bangsa Arab (utara maupun selatan) penguasa perdagangan rempah-rempah di abad ke-5 SM. Jalur perdagangan yang dirintis bangsa Arab menghubungkan Arab, Baghdad, India, Guangzhou (Cina), dan Spice Islands alias Kepulauan Maluku.
Bangsa Arab dan bangsa Kanaan / Fenisia (sekitar Lebanon di masa sekarang) adalah yang pertama memperkenalkan rempah-rempah dari Asia ke benua Eropa. Bangsa Kanaan / Fenisia adalah pelaut yang tak mengenal kata takut. Mereka menyalurkan komoditas bangsa Arab dan Afrika ke kawasan Mediterania, seperti Yunani, Romawi, Spanyol, Perancis, juga Afrika Utara. Bangsa inilah yang medominasi perdagangan dan memperkenalkan rempah-rempah dari Asia, termasuk cengkeh di kawasan tersebut. Bangsa Fenisia akhirnya jatuh di tangan bangsa Romawi pada 332 SM. Sedangkan untuk mempertahankan dominasinya, bangsa Arab merahasiakan sumber rempah-rempah dari bangsa barat dengan mengarang dongeng yang sangat pelik tentang dimana dan bagaimana mereka mendapatkan rempah-rempah tersebut selama berabad-abad.
Abad Modern
Ketika kawasan dunia terancam penyakit – seperti epidemi pes di Eropa pada abad ke-16 – rempah-rempah oleh dunia pengobatan dianggap mujarab sebagai penangkalnya. Terlebih menarik lagi adalah ketika Turner juga memaparkan kaitan rempah-rempah dan sejarah erotisme. Terkuaklah bagaimana kisah penggunaan rempah-rempah dalam praktek sexual magic yang bertujuan untuk meningkatkan gairah, keperkasaan, menggaet perempuan, dll. Praktek yang dimulai di Jazirah Arabia di antara para syeikh kemudian dicontoh secara besar-besaran di Benua Eropa.
Mungkin terasa berlebihan jika membaca pada masa lalu rempah-rempah disebut sebagai “buah dari surga” atau “punya kekuatan sihir”, tetapi cobalah percaya betapa nyata bagaimana rempah-rempah itu mengubah peta sejarah dunia.
Bagaimana kabar the spices islands; Ternate, Tidore, dan Banda Naira, kini? Seperti terkubur dalam kubangan rempah-rempah masa lalu....
Rujukan:
1. Jack Turner, Sejarah Rempah, 2011
2. Stephen Openheimer, Eden in The East, 2010
2. Rumahkeboncengkeh.wordpress.com
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar