Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Ini adalah blog komunitas pendidikan di Banda Naira, bergabunglah bersama kami, untuk kemajuan bersama--bandaeducation--bandaeducation--bandaeducation--Thank's for visit our blog. This is the community blog for education in Banda Naira....come n enjoy with us...for our bright future...

Jumat, 24 Juni 2011

MAHASISWA, SPP, DEMO, dan DIALOG

MAHASISWA ZAMAN KINI
Menjadi mahasiswa sekarang makin hari makin banyak saja tantangannya. Selain hrs menuntaskan kewajiban kuliah dgn tugas2 yg terus menumpuk, mnghadapi dosen yg kadang2 bersikap "aneh", ada jg masalah2 teknis-finansial yg selalu saja menghantui. Tugas yg menumpuk sering menjengkelkan, sebab alokasi waktu dgn jumlah tugas yg diberikan seringkali tdk berimbang, ini dialami hampir diseluruh perguruan tinggi yg ada, meskipun di beberapa tempat mgkn tdk "separah" di kota-kota besar. Di Banda dan beberpa kampus di Maluku misalnya, oleh karena keterbatasan sdm dan sdf (sumberdaya finansial) nya, biasanya perkuliahan lbh dikurangi, atau dipersingkat, yg konsekwensinya tugasnya pun dipersingkat pula, atau bahkan ditiadakan samasekali. Suatu keuntungan?!

Masalah kedua adalah masalah dosen yg kdg bersikap aneh, ini jg trjadi di hampir semua kampus. Mahsiswa seringkali merasa bahwa apa yg dpahaminya tdk sampai pd pemahaman dosennya. Atau bahkan kontradiktif samasekali. Menyikapi hal ini, ada mahsiswa yg hanya mampu mengelus dada, namun adapula yg kdg tdk sabaran dan lgsg mengkritik.

Masalah ketiga adalah masalah finansial. Ini masalah yg plg menyita perhatian, krn sgt sensitif. Jgnkan bagi mhswa reguler yg dituntut merogoh kocek dalam2 tiap smtr nya utk bayar SPP, bahkan bagi mhswa yg dpt Beasiswa pun tak luput dr problem ini; mulai dr terlambat pencairannya, kurang nominalnya, dll (baca note sebelumnya).

Masalah-masalah ini, tdk jarang buat kepala pening, hati panas, jantung berdebar, muka pucat, perasaan tak karuan....ingin sekali marah, tp kadang ditahan, mikir kalo2 trlalu banyak protes akan terancam jeblok n gak lulus matakuliahnya...

Ada semacam 2 kutub yg saling tarik-menarik dalam diri mahaswa; antara idealisme dan realisme-pragmatis. Yg pertama adl keinginan ideal, "maunya begini", "harusnya begitu". Sementara yg kedua adl "nyatanya begini, "takdir nya sdh bgtu"....Yg seharusnya dan yg senyatanya seringkali susah bertemu, bahkan keduanya boleh jadi saling "serang", mendominasi satu thdap yg lain, meski ada pula brjalan seimbang, selaras. Pribadi yg didominasi oleh kutub idealis akan jd "pendobrak" yg tanpa ampun. Sebaliknya, yg didominasi kutub realis-pragmatis akan jd penjilat ulung. Yg mampu mengimbangi kedua kutub adl pribadi yg mahir.

SPP NAIK = DEMONSTRASI
Salah satu isu krusial yg paling cepat membakar sumbu emosi mahasiwa biasanya soal SPP...tak heran, soal duit memang krusial bagi semua orang. Terlebih di zaman yg ktanya serba susah skrg ini. Dimana pun, di kampus mana saja, kalo sudah bicara SPP naik, yg muncul dlm benak mahasiswa adl "protes"..!!!

Meskipun ada mhswa yg menggunakan cara2 persuasif, namun tampaknya protes dgn cara berdemonstrasi jauh lebih digemari. Hampir-hampir tak lengkap predikat mahasiswa tanpa demonstrasi. Maka wajar jika mahasiswa di Makassar (dan jg di bberapa tempat lainya) doyan banget dengan aktivitas berdemo. Memagari jalan umum, membakar ban-ban bekas, merusak pagar, bahkan sampai melempari kampus sendiri hanya gara2 tdk setuju dengan kebijakan kampus, semua menjadi pernak-pernik demonstrasi sebagai wujud ungkapan protes...

Salah? Tidak juga! Bagi sebuah sistem yg ketat dan tertutup, lebih2 represif, cara demo akan sgt efektif utk mencapai tujuan. Upaya perlawanan terhadap sejumlah kalangan "elit" (pejabat, birokrat, dll) yg sengaja menutup rapat mulutnya, diam seribu bahasa, maka cara ini bs menjadi senjata plg ampuh. Namun dlm kondisi yg lebih terbuka, pada sistem yg lbh inklusif, pada kalangan yg lbh mengedepankan cara2 emansipatorik, semestinya, para mahswa pun harus lbh kritis dan bijaksana untuk mengedepankan nalar ilmiah dan berupaya memahami sejumlah kausa forma dan materia dari sebuah kebijakan. Mengapa SPP itu naik? Mengapa kebijakan itu diambil? Menjawab pertanyaan "mengapa" tentu bukan dgn cara protes, tapi dengan cara menelusurinya, untuk kemudian didialogkan secara terbuka, jujur, dan bermartabat. Dengan cara demikian, akan jauh lbh mencegah diri dan kelompok dari tindakan-tindakan yg merugikan kepentingan umum, bahkan dari jatuhnya korban yg tdk prlu. Sebab tdk jarang sebuah demonstrasi meminta "korban"?!

Saya msh ingat masa-masa aktif berdemo tempo doloe, waktu itu demo nya tentang konflik Ambon tahun 1999. Saya kira2 smter 6 saat itu. Tuntutan kita waktu itu agar secepat mgkn pemerintah menghentikan konflik agar tidak memakan korban jiwa lbh banyak. Sy berdiri di baris terdepan, sampai semua kamera TV pun menyorot close up wajah khas ambon ini. Hehe, sedikit GR waktu itu, mhswa msk TV adl fenomena langka, dan membanggankan, pikir saya. Tp diakhir cerita, aksi kita dibubarkan paksa oleh aparat berlapis....Saat dibubarkan, saya yg berdiri paling depan menjadi sasarn empuk pentungan dan rotan para pasukan bertameng....memang nasib saya...stlh cukup lama berguling-guling menghindari pukulan, saya akhirnya "diamankan" dan disuruh kembali ke barisan mahasiswa, lalu kemudian pulang. Tak lama terdengar pemerintah lewat Perjanjian Malino bergegas mengupayakan perdamaian di Maluku. Lega hatiku, meskipun hrs menikmati badan yg "korban" babak-belur, di kamar kost seorang diri......

DIALOG
Zaman kini tentu beda dengan dahulu. Zaman kini penuh keterbukaan (meskipun bukan berarti tdk lebih menantang dan tak memiliki kerumitan2 didalamnya). Aktivisme mhswa kini dalam menghadapi problematikanya pun tdk bs disamakan dengan masa lalu. Era reformasi tampaknya membuat segalanya menjadi lebih terbuka untuk dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan. Dalam konteks pengelolaan lembaga pendidikan pun demikian, tampaknya tak ada lagi perguran tinggi di zaman kini yg berani "main-main" dengan mahasiswanya. Seluruh kebijakan pasti diupayakan setransparan mungkin. Bahkan keterlibatan seluruh sivitas akademika menjadi tuntutan yg mutlak. Para dosen dan karyawan juga diupayakan bersikap dan berperilaku dalam semangat yg sama, selaras dgn tuntutan zaman. Kalau pun msh ada diantara mrk yg memiliki sikap dan paradigma yg lama, saya kira itu hanya menunggu proses.
Oleh karena itu, dengan suasana keterbukaan, maka jalan terbaik dan paling kontekstual dlm upaya penyelesaian masalah2 apapun, hemat saya, hanyalah dengan berdialog. Dialog akan membuat segalanya jadi terbuka dan terang benderang, tentulah dialog yg dimaksud adl dialog yg jujur dari masing2 pihak. Apa yg diinginkan dan dimaksudkan dpt ditemukan terang penjelasannya dlm dialog. Dialog akan membuat yg tersumbat jadi lancar, yg menghimpit jd leluasa, yg kerut dan kusut jd lentur dan terurai, yg hitam pekat sedikit2 terpoles jd bening....skali lg tentu dialog yg jujur dari hati ke hati masing2 pihak, penuh kesantunan, dan berlandaskan rasionalitas yg jernih....
Wallahua'alam....

Muhammad Farid
Dosen Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora STP-STKIP Hatta-Sjahrir Banda Naira

0 komentar: