Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Ini adalah blog komunitas pendidikan di Banda Naira, bergabunglah bersama kami, untuk kemajuan bersama--bandaeducation--bandaeducation--bandaeducation--Thank's for visit our blog. This is the community blog for education in Banda Naira....come n enjoy with us...for our bright future...

Senin, 03 Januari 2011

DES, BANDA, DAN PERJUANGAN TIADA SIRNA

Des Alwi dan Banda Naira hampir tidak mungkin dipisahkan. Bahkan nyaris tidak lengkap menyebut Banda Naira tanpa Des Alwi. Keduanya melekat bagaikan jasad dan ruh, pun seperti kebutuhan manusia akan udara.

Peran penting Des Alwi dalam membangun negeri Banda, tanah tumpah darahnya, bahkan tidak cukup untuk dilukiskan dalam sebuah narasi sejarah itu sendiri, alih-alih dalam coretan sederhana dan singkat ini. Namun satu hal yang patut dicatat, dari karya tulisnya tentang Sejarah Banda Naira, Des telah mampu mempertemukan Indonesia dengan “ibu kandungnya” sendiri yang telah lama hilang. Bahkan, tanpa sejarah itu, dunia akan kehilangan Banda.

Ya, kita tampaknya sepakat terhadap satu kenyataan historis, bahwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-17 dikarenakan rempah-rempah Banda Naira yang begitu memikat. Portugis, Spanyol, dan kemudian Belanda dan Inggris, seakan terpikat dengan daya magis pala Banda yang eksotis itu. Maka terbukalah jalur perdagangan internasional antara dunia dan Nusantara. Masyarakat dunia pun berbondong-bondong mencari dan menemukan pulau rempah-rempah itu (the spices island), dialah kepulauan Banda Naira.

Luar biasa dampak karyanya itu, sehingga membuka mata orang Indonesia—bahkan mata dunia—tentang Banda. Orang di negeri ini umumnya hanya mengenal digul, nusa kambangan, dan pulau Buru sebagai tempat-tempat pengasingan tokoh-tokoh pergerakan nasional di masa lalu. Hanya sedikit yang akhirnya sadar (setelah diingatkan), bahwa tokoh-tokoh hebat seperti; Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan dr. Tjipto Mangunkusumo, pernah mengisi hari-hari pengasingan mereka di Banda Naira. Banyak orang tidak menyangka, seorang Jenderal bengis nan sadis J.P. Coen yang membangun Batavia, sebelumnya bercokol di Banda Naira dan membumihanguskannya.

Des dan sejumlah karya tulisnya, hanya salah satu diantara banyak sumbangsih dia terhadap bangsa ini; mendokumentasikan sejarah tanah air lewat audio visual, mengelola yayasan 10 november, memugar rumah-rumah bersejarah peninggalan tokoh-tokoh penting negara, merawat dengan baik buku-buku peninggalan bung Hatta, memelihara rumah-rumah adat, merenovasi benteng-benteng Portugis dan Belanda, memelihara ekosistem lingkungan; laut, pantai , ikan, tanah, hutan, dan kebun-kebun pala, rela ia beli berhektar-hektar dan bermil-mil hanya dengan niat agar tidak dirusak oleh tangan-tangan tidak bertanggungjawab. Semua itu ia lakukan dengan tulus ikhlas, membeli dan merawatnya dengan uang dari sakunya sendiri, tanpa mengharap bantuan siapapun.

Begitu besar peran Des Alwi, namun di ujung sana, di sudut-sudut kota dan desa, masih saja terdengar suara-suara sinis menanggapi Des yang dianggap ingin “memonopoli”. Des kadang hanya tertawa, namun sesekali bisa emosi dan naik pitam, seakan heran dengan tanggapan-tanggapan miring orang tentangnya. Des seperti tidak percaya, bahwa niat baiknya itu ternyata dibalas tuba.

Des Alwi bin Syekh Abubakar, lelaki yang hidupnya hanya untuk berjuang tanpa kenal lelah itu, kini telah tiada. Bahkan diakhir usianya yang hampir 84 tahun, ia masih saja terus berjuang melawan sakit jantung yang dideritanya sejak lama. Doa kami putra-putri Banda Naira agar kasih sayang Allah SWT selalu menyertaimu. Semoga semua amal ibadahnya, budi baiknya, sumbangsih pikiran dan tindakannya; bagi keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara, menjadi hisasan hidupnya di akhirat kelak. Sungguh budi baikmu menjadi teladan hidup kami untuk berbakti kepada negeri tercinta ini.
Amin ya Rabb, wahai yang Maha Penjawab doa.


Muhammad Farid
Penikmat Sejarah, Putra Banda Naira.

0 komentar: